Jumat, 25 Mei 2017
.
.
Aku lagi bebaring ditempat tidurku,
Menatap langit langit ruangan itu.
Kemudian terlintas beberapa kenangan.
.
.
.
Sebelumnya, harus kalian ketahui. Aku kelahiran 1997. Masa kecilku penuh dengan cerita suka duka.
.
Aku ingat,..
Dulu, aku di masa kecil. Bersama mereka yang kini aku rindukan.
.
Aku pernah tinggal bersama Budheku yang pertama. Namanya Budhe kas. Beliau pandai sekali masak. Beliau punya dua putri. Pangil saja 'mbak mentul' sama 'mbak desi'. Suaminya bernama pakdhe narto. Mereka adalah bagian keluarga almarhum ibu kandungku.
.
Aku pernah tinggal bersama Budheku Sri. Anak keduanya mbah putri dan mbah kakung. Masih bercerita tentang keluarga ibu kandungku. Budheku sri punya dua putra. 'Mas Hendra' dan 'Mas Yudha'. Keluarga yang bisa dibilang punya pengaruh besar pada kepribadianku.
.
Aku pernah tinggal dikeluarga omku. Om Parjan namanya. Anak ke Empatnya mbah putri dan mbah kakung. Beliau satu satunya putra dari ke enam bersaudara. Paling sering aku manggil beliau "Ayah". Istrinya cantik. Namanya bu vivi. Dua putrinya dekat sekali padaku. Namanya 'Yovi' dan 'Nadia'. Rindu... Rindu sekali rasanya.
.
Kemudian,
Aku pernah tinggal bersama Bu Tinah. Bulekku yang pernah memberikan Asinya buat aku. Suaminya telah meninggal beberapa tahun lalu. Putranya tiga. Dan tiga tiganya punya kesan tersendiri padaku. Aku sangat kagum dengan keluarga ini. Tangguh dan rendah hati.
.
Yang terakhir adalah Bulek Marti. Mamahku. Bulekku yang kata orang mirip sekali dengan ibu. Entah, aku nyaman saja memangil beliau dengan sebutan Mamah. Kedua anaknya, putra dan putri. Namanya Arya dan Sezha. Imbang. Keluarga inipun juga punya kesan tersendiri padaku.
.
.
.
Mereka keluarga yang selalu aku banggakan. Keluarga yang selalu aku rindukan sampai kapanpun. Sebagaian besar kepribadianku dibentuk oleh mereka mereka. Rasanya ingin sekali mengenalkannya padamu. Rasanya ingin sekali menceritakan tentang mereka satu persatu.
.
.
Aku bangga, aku bangga pernah tinggal bersama mereka. I love all. Jangan pernah berpecah belah.
Kamis, 24 Mei 2018
Tentangku tentang keluargaku (prolog)
Selasa, 22 Mei 2018
Berbicara Prihal Cinta
Selasa, 22 Mei 2018
.
Setiap orang punya takdir sendiri sendiri.
Bisa jadi hari lalu dia milikmu,
Yang kau idam idamkan,
Bagaikan langit yang mengagumkan.
.
.
Tapi setelah semua berlalu,
.
Dia berpaling.
.
.
Dan semua itu...
Bukan salahmu,
Bukan salahnya,
Ataupun seseorang yang dia inginkan hari ini. Seseorang yang kini menjadi pilihan terbaiknya.
.
.
Tidak ada yang salah ketika Berbicara Prihal Cinta.
Sama sekali tidak ada yang pantas untuk kamu salahkan.
.
Karena dibalik ini semua,
Ada Dia, sang pemilik sekenario dalam kehidupan.
.
.
Tetaplah terus lanjutkan hidup.
Jangan mengeluh hanya karena pilu.
Jangan mendendam. Hanya karena tak terbalaskan.
.
Tak perlu kau memohon mohon untuk dimengerti.
Karena yang ingin dimengerti adalah mereka yang hatinya tidak bisa mengerti orang lain.
.
Tak perlu mengemis ngemis.
Karena memang nyatanya itu adalah pilihan terbaiknya.
.
.
Jika benar kau sedang Berbicara Prihal Cinta.
.
Maka, Ikhlaskanlah.
Maka, biarkanlah dia Memilih dan Dipilih.
Maka, Doakanlah.
Doakan yang baik baik.
.
Tidak perlu kau ingin menunjukan bahwa kamu sebenarnya yang terbaik.
.
.
Tidak perlu kau memaksa agar dia padamu lagi.
.
Cukup, doakan dia.
.
"Jika benar dia jodohmu... Dia tetap akan kembali padamu. Percayalah... Allah pemilik sekenario terbaik."
.
"Jika bukan, maka percayalah bahwa Takdirmu jauh lebih indah, lebih sempurna, dan lebih baik dibanding dia yang kini kau coba ikhlaskan itu."
.
.
.
Jika engkau Berbicara Prihal Cinta padaku.
Maka akan aku ajak, untuk belajar Ikhlas Mengikhlaskan sebelum mengenal Apa Itu Cinta.
.
.
.
Senin, 04 Desember 2017
Prihal Kamu
Apa yang kau ketahui dari maksud bunga yang kau beri malam itu ?
.
Tak ada alasan yang tepat untuk membuat waktu berhenti sejenak.
.
Tak akan ada yang mampu mencegah untuk hati yang tidak berbaur rasa.
.
Dan tak akan ada apa apanya kamu dan aku untuk selamanya.
.
.
Kau berhak bahagia tanpa aku.
Karena memang nyatanya kamu bukan milikku.
.
Kau berhak berjalan ataupun berlari mengejar mimpi mimpimu.
Karena aku tidak ada hak untuk mencegahmu.
.
.
Mungkin malam Itu,
Antara manis dan pahit.
Antara tangis dan romantis.
Antara hitam dan putih.
Antara ramai dan hening.
.
Katamu, aku harus baik baik saja.
Jaga diri, dan jangan hilang jati diri.
Katamu, rasa itu adalah sebuah persahabatan.
Kau pasti akan merindukan.
.
.
Katamu, apa yang akan aku ungkapkan untukmu.
.
.
Padahal aku selalu bicara.
Memarahimu, atau menertawakan mu.
Entahlah, apapun darimu selalu membuatku campur aduk.
.
.
Terkadang kekonyolan ada pada bagianmu.
Atau terkadang kamu membuatku jengkel dan rasanya ingin memarahimu.
.
.
Aku tak ingin apa apa darimu.
Cukup tetaplah jadi apa yang kamu mau.
Cukup tetaplah sabar melawan egomu.
Dan,
Cukup berusahalah segera untuk melawan sifat kekanak kanakanmu.
.
.
.
.
Aku tidak meminta apapun darimu,
Bahkan mawar yang kau belikan untukku.
.
Aku tidak minta apapun darimu,
Bahkan ucapan ulang tahun yang ke dua puluhku.
.
Aku hanya inginkan satu,
Jangan pernah kau berbohong tentang perasaanmu padaku.
.
.
Karena jika kau mencintaiku, biarkan aku tahu. Agar kau tak perlu mendengar curhatan ku tentang mereka yang selalu datang dan membuatku rindu.
.
.
Atau jika kau membenciku, biarkan aku tahu. Agar aku bisa mendengar keluhanmu tentang aku. Kapanpun yang kamu mau.
.
.
.
Begitulah, malam yang separuhnya akan dihilangkan pagi yang bercahaya.
Kamis, 30 November 2017
Seperti Hujan
Yogyakarta,
Kamis, 30 November 2017
Bagaikan air yang mengalir dari langit yang kau kenal sebagai hujan. Dia datang, menetes, dan jatuh. Kemudian dia kembali menemui kawanannya. Titik per rintik, saling bertemu. Mengalir bersama ditanah, membasahi daun daun bunga taman. Tak lupa atap genting milik rumah per rumah. Atau bahkan tubuh tubuh manusia yang tepat dibawahnya.
Ada kalanya, bau tanah basah perlahan menyebar karena ulah angin.
Semerbak harum dingin menusuk batin.
Perlahan, dia memekik tubuhmu dengan segala hawa kerinduan.
Hingga tanpa kau sadari kau hanyut dan terlelap oleh dekapan bayangan kenangan.
.
.
Satu persatu bayangan itu hadir di ingatanmu.
Membawamu bernostalgia dimasa yang entah itu kapan. Tapi yang jelas itu bukan hari ini.
Hari dimana kamu teringat kenangan.
.
.
Kau tak perlu menyesali. Semua itu memang pernah terjadi. Meski kini hanya menyisakan tangis. Percayalah kau tak perlu menyesali. Sekali lagi aku ingatkan. Kau tak perlu menyesali.
.
.
.
Kau pernah bahagia kala itu, kau pernah berdoa dan bermimpi.
Kala itu kau bahkan benar benar mengatakannya sendiri. Bahwa kau, sangat bersyukur karena ada bersamanya.
.
Kini, kau ingin menyesali. Memarah pada apa yang pernah terjadi. Itu konyol. Hanya akan membuatmu terlihat bodoh. Tanpanya sekarang bukan berarti kau akan menyerah dan pasrah bukan ?
.
Dan dia yang kini bukan lagi manusia yang sama seperti kala itu. Yang menghadirkan tawa canda pada harimu. Bukan berarti orang yang layak kau persalahkan.
.
Kau tak perlu membencinya. cukup dengan ikhlaskan saja. Kau akan temui bahagiamu.
.
.
Meski memang nyatanya dia yang meninggalkanmu. Tapi, percayalah. Ada rencana lain untukmu. Bisa jadi dia didatangkan pada duniamu kala itu karena untuk sejenak. Bukan menetap.
.
dan seharusnya kau berfikir. Bahwasanya didunia ini tidak ada yang pantas untuk benar benar kau andalkan. Bahkan orang tua atau keluargamu itu sendiri.
.
Bahkan tangan ataupun kakimu.
.
.
Kecuali satu, dan itu adalah Tuhanmu.
.
.
.
Semua di dunia ini ada batasan waktu. Seperti roti yang ada pada kemasan rak toko itu. Atau mungkin nasi yang ada di atas piringmu kala akan kau makan.
.
.
Ada kalanya nasi itu belum menjadi nasi. beberapa waktu menjadi bibit, kemudian padi, lalu tumbuh dan berbiji yang nanti kau sebut beras. Kemudian harus berproses hingga kau sebut nasi. Nasi tak selamanya tetap utuh baik bukan ? Dia juga bisa basi.
.
.
Sama halnya juga dengan orang orang yang kau sayangi kini. Bisa jadi mereka hari ini adalah orang orang yang kau banggakan. Tapi aku yakin.. Itu tidak untuk selamanya. Kecuali atas kehendak Nya.
.
.
Jadi, hidup dan cinta itu sama halnya dengan Hujan. Karena "Setiap hujan pasti berhenti, musim juga pasti berganti, begitupun dengan sakit hati, suatu saat ia pasti kan terobati."
Minggu, 29 Oktober 2017
Tentang aku dan kamu
Yogyakarta
Senin, 30 Oktober 2017
Kau bisa mengajaknya berlari.
Itu hal mudah.
Kau hanya perlu mengayunkan kedua kakimu dengan sedikit cepat.
Tapi resikonya, kau akan segera merasakan lelah.
Mungkin kau akan memilih berjalan saja.
Pelan tapi pasti.
Namun yang ada, kau akan temui waktu yang berlalu dan tak kunjung sampai pada tujuan.
Jika kau memutuskan diam.
Sejenak saja.
Kau akan merasa sangat gelisah.
Dan yang ada...
Kau hanya akan temui doa khayalanmu.
Mengharapkan waktu segera berhenti.
Untuk tetap seperti ini.
Dia memelukmu dengan cinta kasih. Dan kau merasakan kehangatan itu.
Tapi...
Jika dia adalah aku...
Maka,
Yang ada...
Aku Tidak Mau Sayang !!!
Sayang...
Aku tidak mau bukan karena aku tidak mencintaimu...
Bukan, bukan seperti itu...
Tapi,
Berdiam itu bukankah sama seperti patung.
Dia hanya seperti itu.
Diam, dan hanya diam.
Dia tidak akan pernah terjadi apa apa.
Sampai kapanpun hanya satu yang dia rasakan.
Sadarlah...
Aku ingin selalu ada untukmu.
Menikmati apapun tantangan dalam hidup bersamamu.
Menikmati masa muda kita,
Masa dimana kita berjarak,
Masa dimana aku menangis karena duniaku yang menjenuhkan dan kamu datang memberikan semangat dukungan.
Menikmati apa apa yang akan terjadi dimasa mendatang...
bahkan,
Menikmati masa tua kita yang siap tidak siap akan mengalami perpisahan.
Pilihlah keputusan yang tepat sayang.
Aku tak apa kau ajak berlari.
Asalkan kau jangan lupakan aku hingga egomu membuatku tertinggal dibelakang.
Aku tak apa kau ajak berjalan.
Tapi ku mohon...
Simpanlah sabar dan syukur agar kau selalu ada dalam keteguhan hati yang damai ini.
Agar aku selalu bisa mendampingimu, tanpa harus kau lihat mereka yang baru dan ingin mengusik aku di hidupmu
Berjalan...
"Alon alon seng penting kelakon."
Begitulah kata eyang dan kakung.
Jumat, 22 September 2017
Janjiku pada Ayah dan Ibu Dirumah
Dewasa ini, aku belajar banyak hal.
Tentang sesuatu yang menyenangkan, tapi tidak selamanya.
Terkadang, air mata hadir setelah tawa.
Atau bahkan sebaliknya.
.
.
Banyak hal yang aku lihat, tentang sebuah dimensi waktu setiap hari.
Perubahan perubahan,
Kejadian jadi kenangan.
Segalanya...
.
.
Dulu dimasa kecil, aku tak pernah memikirkan sedikitpun tentang apa itu kenangan.
Apa artinya kenangan,
Apa itu sejarah,
Dan apa itu belajar sejarah.
.
.
Yang ku ingat kala itu,
Bermain dan tertawa adalah bahagia yang sangat istimewa.
.
.
Tak butuh menjadi orang yang hebat,
Cukup menjadi teman yang paling asik dan paling kreatif adalah hal yang paling utama.
.
.
Kini, setelah usai umur umur itu bertambah.
Dan menjadi tualah aku,
.
.
Aku baru menyadari,
Bahwasanya...
Dewasa itu adalah berat.
Bukan sekedar tawa dan air mata.
Melainkan sebuah pengorbanan dan pengabdian.
.
.
Mencari cari titik permasalahan,
Mencari cari cara untuk solusi.
Mencari cari segala jalan,
Tapi sekali lagi...
Kita akan temui sebuah pengorbanan dan pengabdian.
.
.
Kadang aku rindu pada masa itu,
Kala rumah yang dulu ramai akan jerit dan tawa kami.
Kini menjadi sepi,
Hanya suara radio atau chanel tv saja yang memecahkan hening.
.
.
Dulu, ayah selalu menjadi orang yang asik dalam bercerita.
Kini menjadi orang yang paling sepi menunggu cerita.
.
.
Dulu, ibu adalah wanita tersibuk dirumah.
Kini menjadi wanita yang setia menunggu anak anaknya pulang.
.
.
Sesekali aku tersenyum,
Rasa sesak dalam batin menusuk.
Air mataku hampir saja terjatuh,
Sesekali ku bernafas dalam untuk menahan.
.
.
Ada kicauan merdu burung diluarsana,
Sesekali kuberfikir.
Memang jalan hidup seperti ini adanya.
Tidak ada yang bisa ku tolak.
Kecuali, sesegera mungkin mempercepat kesuksesan.
.
.
Kembali ku teringat kata kataku saat berpamitan kala itu.
"Ayah, Ibu... Minta doa restunya ya. Aku segera pulang.."
.
.
Ayah dan ibu hanya mengangguk. Senyumannya tulus dengan sorotan mata yang haru.
.
.
Kini anaknya sudah besar, sesegera mungkin dia merai citanya.
.
.
Aku di kota lain,
Di ruangan sempit,
Dengan tempat tidur ala kadarnya.
Teringat kenangan kenangan lama.
.
.
Sesekali aku rindu pelukan mereka.
Sesekali aku rindu,
Tidak...
Ini adalah kali keberapa.
Aku merindukannya.
.
.
Iya,
*Aku Harus Pulang*
.
.
Aku tidak akan biarkan rindu ini mengepung langkah kakiku.
Aku harus bersemangat !
Aku harus menjadi hebat.
.
.
Berbekal kejujuran dan kesabaran.
Bukan hanya itu,
Aku harus tanggung jawab.
.
.
Aku harus mencari jalan keluar,
Aku harus sesegera mungkin mendapat modal untuk usahaku.
.
.
Aku harus sesegera mungkin membuka usaha baru dan sukses usia muda.
.
.
Aku harus, sesegera mungkin.
Ini belum terlambat.
Aku harus pulang...
.
.
Ya.
Ayah dan ibu menungguku,
Dia menunggu kesuksesanku.
.
.
Aku putri kecilnya yang dulu dia jaga.
Kini harus sesegera mungkin punya usaha.
Agar sesegera mungkin pula aku dirumah dan merawatnya.
.
.
Tak usah bermuluk muluk memikirkan pangeran tampan.
.
.
Kebahagian ayah dan ibu adalah hal utama.
.
.
Sebelum perkawinanku,
Aku harus mampu merawatnya dulu.
.
.
Jika nanti aku kawin.
Aku ingin suamiku memahami perasaanku,
Aku ingin menjaga orang tuaku dan orang tuanya.
.
.
Karena kita adalah anak.
Tidak sepantasnya melupakan jasa mereka.
.
.
Hanya menjaga, apa sulitnya.
Aku mencintai mereka.
Harta, tahta... Itu bukanlah segalanya.
Melainkan keluarga dan jasa mereka adalah kebahagian seutuhnya.
Sabtu, 09 September 2017
Next Time
kau tahu kapan pertama kali kita bertemu. Partama dengan sorotan mata yang indah dan lukisan senyuman manis yang menghangatkan jiwa. .
Ku tak perduli seberapa banyak rasa dinginmu terhadap dunia
.
Yang ku tahu, kau begitu perhatian pada alam yang indah itu.
.
Kau tak perlu tahu tentang apa yang terjadi padaku dimasalalu atau masa sekarang. .
Yang harus kau tahu, aku sangat bangga mengenalmu.
.
.
Hanya 24 jam, bahkan kurang dari itu. Cukup menjelaskan. Bahwa kau, benar benar sosok yang aku cari. .
Tapi sayang, setelah waktu itu berlalu. Semua mulai berubah. .
Minggu itu kau terasa begitu nyata, hingga esok aku masih merasa bahwa kau benar benar nyata.
.
.
Tapi, setelah minggu selanjutnya.
Aku baru sadar. Aku bermimpi kala itu.
.
.
Pertemuan selanjutnya, yang ku pikir kau akan bahagia. Tapi nyatanya, kau semakin dingin. .
Mungkin karena salahku.
Terlalu berharap sifatmu kan berubah saat terik mencoba melelehkan dengan sengatan panasnya.
.
.
Saat itu aku banyak diam.
Bukan karena aku bisu.
Bukan karena aku marah.
Atau bahkan bukan karena aku tidak memperhatikanmu.
.
.
Aku memperhatikanmu dari kejauhan. Saat kau berjalan sendirian. Saat kau datang membawakan nampan makanan. Saat kau berdiri mengajakku pulang. Saat kakimu terlihat kotor tanpa kau sadar. Saat semua mata memperhatikan kita. Saat aku berjalan dibelakangmu dan pura pura sibuk. Saat kau menatapku dengan tatapan mata yang dalam. Saat kau masih duduk dibangku itu dan melihat diluar kaca jendela. Saat kau melangkah kearahku. Saat kau melangkah disampingku. Saat kita duduk dibangku itu dan kau menjelaskan apa yang ingin kau jelaskan. Saat kau menungguku yang sedang menemui kekasih yang maha satu
.
.
Kau tahu ??? Saat kau menghantarku membeli tiket itu.
Aku meneteskan air mata dan berusaha segera menghapusnya dan menggantikan lukisan senyuman diwajahku. .
.
Kau ingat ??
Saat kau masih didalam pelukan hangatku.
Aku katakan bahwa aku Takut Kehilangan Lagi. Setelah sebelum kamu. Aku bersamanya yang berhasil membuat luka sedalam dalamnya. Dan membuat air mata bercucuran setiap malam
.
Malam itu tiba tiba kau panggil namaku lewat chat. Aneh rasanya, kau ingin berkunjung ke kotaku tapi sayangnya kau masih menanti waktu luangku. .
Aku fikir itu hanya bercanda.
.
Dan pertemuan itu terjadi begitu saja. .
Kala itu membuatku bahagia. Membantuku untuk lupa, akan angan angan yang hanya membuat air mata.
.
Kali pertama, seseorang yang baru saja ku kenal. Telah membuatku berhasil berdamai pada hujan tanpa serangan sakit itu.
.
.
Kau ingat, betapa bahagianya aku saat hujan turun dimalam itu?
.
Dan ada beberapa hal yang me membuatku terkejut. .
Hanya bungkam merasakannya.
.
Saat itu aku merasa bahwa kau orang yang selama ini aku cari. .
Seorang pangeran dari alam mimpi indahku. Yang datang dengan tiba-tiba kemudian menunjukanku tentang cinta pandangan pertama. .
Kau izinkan aku tertawa dan merasa nyaman padamu.
Kau izinkan aku mendengar dan terlelap akan suara detak jantungmu.
Bahkan kau izinkan aku datang dan bertamu untuk pertama kalinya untukku dan jelas untukmu.
.
.
Kau ingat ? Sesuatu yang ku berikan padamu malam itu ?
.
.
Sebuah aksesoris yang ku suka kini berada ditanganmu. Tangan kirimu. Dan aku menyukai itu. Sangat menyukai itu.
.
.
Wahai pangeranku, sadarkah kau. Bahwa kau hanyalah bunga tidurku selama ini. Seseorang dengan sifat yang dingin, tapi berdamai dengan alam. Dan mengetahui beberapa benda yang ingin kupertanyakan. .
.
Dari awal, memang ku akui kutertarik pada duniamu. .
Aku yang bukan siapa siapa.
Dan tersudut di pojok sana.
Diantara berjuta juta temanmu yang sempurna.
Hanya mampu diam dan berdoa.
.
Mengagumimu dan terus mengagumimu
.
Pangeran yang pandai melukiskan senyuman diwajahku dengan sifat dinginnya. .
Pangeran yang mampu membuatku bahagia saat bersamanya meski hati sedang putus asa.
.
Pangeran yang selalu berfikir logis.
.
Pangeran yang membuatku berdamai pada cinta dan sakit hati.
.
.
.
Kala itu hari senin.
Hari dimana kita mengawali dan entahlah akankah pertemuan terakhir itu adalah perpisahan untuk selamanya ?
.
.
Ku terkejut saat kau katakan bahwa kita berbeda. Kita memang punya satu tujuan yang sama. Namun, untuk melangkah meraih tujuan itu kita tidak sependapat. .
Kau jelaskan banyak tentangmu.
.
Rasa ketidak percayaanmu, bahkan alasan mengapa kamu setuju kata kataku. "Sebaiknya aku pergi, sebelum rasa itu dalam, sebelum penuh kenangan, sebelum semuannya terlanjur menjadi kebahagiaan. Karena aku masih belum siap bila nanti harus kehilangan."
.
Air mataku sempat terjatuh saat itu. Apakah kau melihatku ? Tapi aku berharap kau tak melihatnya. .
Jika kau memperhatikanku harusnya kau sadar berapa kali aku memalingkan wajahku saat berbicara padamu. .
Semua jelas disana.
Aku mencintaimu tapi kerumitan yang kudapat.
.
.
Kau merasa semua ini hanya sebuah kebetulan.
Tapi, tidak untukku.
Aku merasa kita saat itu dalam takdir yang sama.
Saat itu, kita dipertemukan.
.
Mungkin maksud Tuhan mempertemukanku padamu dengan maksud ingin melihatkan padaku bahwa ada orang sepertimu. .
Dan beberapa umat didalam agama yang ku anut masih belum mampu menguasai agama itu.
.
Mungkin maksud Tuhan mempertemukanmu kepadaku ingin menunjukan penjelasan tentang gambaran yang sedang kau fikirkan.
.
.
Semua tidak ada ikatan kebetulan.
Tuhan merencanakan, Dialah pemilik sekenario cerita kita. .
.
Kau ingat rasa yang ada dibenakmu saat kita berada di Stasiun sore itu ?
.
Sorotan matamu,
Dan langkahku ...
.
Kau ingat, ucapan terakhir sebelum ku beranjak dari tempat duduk kita...
.
.
"Akankah kita takdir yang sama lagi ?"
.
.
Andai saja kau tahu, meninggalkanmu adalah salah satu hal berat yang ada dibenakku. .
Dan air mataku begitu tulus memahamiku dan terjatuh tanpa tipu.
.
.
Kata maaf berulang kali kau ucap.
.
Kau katakan pula bahwa kau tak ingin mengatakan perasaanmu padaku. .
Karena itu bagimu hanya dapat menyiksaku..
.
Konyol,
Konyol memang, kau takut mengatakan sebuah kepastian padaku.
Padahal kamu sendirilah yang membuatku menjadi yakin bahwa kamu milikku. .
Semua orang tidak akan ada yang pernah memahami. perasaanmu perasaanku saat ini. .
.
Saat itu hampir pukul Empat Sore,
Ku katakan padamu bahwa aku ingin memelukmu. Tapi, itu tidak mungkin. .
.
Kau bungkam disana.
Kau memperhatikan setiap gerakanku. .
.
Aku melangkah dengan berat,
Berkali kali mencoba untuk kuat dan tegar didepanmu.
.
.
Sesekali ku tengok belakang
.
dan mendapati kamu yang masih berdiri disana.
.
Sungguh, ini sangat berat. .
.
Cinta pandangan pertamaku kini harus segera ku tinggalkan. .
Air mataku jatuh setelah ku tengok kearahmu. .
Dan semakin jatuh,
Saat ku duduk di kursi penumpang kala itu. .
Ku tatapi kaca jendela. .
Pandanganku tertuju pada sinar senja yang membuatku kian terluka. .
.
Aku yakin kau pasti bahagia...
.
Tapi aku sedih, mengapa cinta hadir untuk sebuah pertemuan yang sangat singkat. .
Mengapa begitu tega, .
Kau dengan mudah melukiskan senyuman di wajahku. .
Tapi, kau juga teramat mudah menyulapnya menjadi air mata yang beku. .
.
Senja sore itu membuatku terpuruk rapuh. .
Membuatku teisak isak sendiri.
.
.
Membuatku jatuh,.
.
Aku mengharapkan sesuatu yang tidak pasti. .
Dan ini resikoku.
.
.
Kau ingat pertama kali kau kecup keningku?
.
.
Apa yang kau rasakan pada hati yang kau anggap hanya organ penetral racun itu ?
.
.
Malam itu aku menangis di pelukan mereka. .
.
Kemudian diajaklah tertawa, .
Dan mereka berhasil membuatku menyembunyikan luka walau sejenak. .
Senyumanmu, caramu memanggil namaku, caramu memanjakanku...
.
Selalu terngiang didalam imajinasi sunyiku. .
Sadarkah pangeranku.?
.
Pergiku bukanlah alasan untuk menjauhimu.
Bukan pula alasan untuk membencimu atau melupakanmu.
.
Melainkan aku ingin tahu, benar tidak kamu adalah milikku.
.
.
Tak sepantasnya ku tangisi kamu yang bukanlah siapa siapaku.
.
.
.
Kau begitu sempurna,
Kau mengagumkan..
Tapi, aku...
.
.
.
Aku hanyalah gadis kecil milik ayahku, yang tidak memiliki banyak kelebihan. .
.
Yang tidak sepenuhnya tahu menahu tentang apa yang ingin kau pertanyakan, tapi aku kan mecoba mencari jawaban yang tepat.
.
Aku yang tidak sepenuhnya tangguh
.
Yang mudah menangis dan terhanyut dalam drama hidup.
.
.
Kau teramat sempurna, .
Kau miliki segalanya.
.
Kecerdasan
.
Kepintaran
.
Kekayaan
.
Teman dan keluarga yang hebat
.
.
Tapi tidak padaku...
.
Aku hanyalah gadis biasa dari desa plosok,
.
Yang tidak secerdas bahkan sepintar kamu atau gadis yang lain
.
Yang tidak berlimpah harta untuk hidup yang mewah.
.
Aku adalah gadis desa,
Yang selalu di ajarkan ayahku untuk tangguh.
.
Bekerja keras terlebih dulu untuk membeli sesuatu.
.
Dermawan dan hidup apa adanya itu yang selalu dituntut.
.
Lapang, dan perduli itu yang selalu di rajut.
.
Sayang menyangi, ayom mengayomi orang lain itulah cara duniaku.
.
Aku dari kaum yang lemah, tidak sepertimu pangeranku.
.
Aku memang mencintai dunia ini, .
Tapi aku sadar, dunia ini tidak akan kekal. .
Rumahku sesuai pada janjiku sebelum ku terlahir didunia ini pangeranku.
.
Begitu bedanya kita.
.
Kau begitu santai menikmati duniamu...
.
Tapi tidak untukku.
.
Aku selalu dan terus menerus bodoh bagimu. Mungkin.
.
Aku mencintaimu tapi aku lebih mencintai Tuhan, Rasul, Kitab Dan Agamaku. .
.
Bukan karena aku tidak ingin mengenalmu lagi.
.
Tapi aku ingin kau hargai aku seperti aku menghargaimu pangeranku.
.
.
Sedikit saja, dinginmu lelehkan sedikit saja. .
.
Kenali aku, lihat apa yang ingin ku perlihatkan padamu. .
Lihatlah, pada dirimu sekarang
.
.
Kau masih mencari cari cara yang tepat...
.
.
Apa yang harus ku perjelaskan padamu... .
.
Sebenarnya sudah tampak jelas dimatamu.
.
.
Setiap sujudku aku menangisi diriku sendiri
.
.
Ini adalah kesalahanku.
.
Menciptakan cinta yang besar padamu,
.
Membiarkan kau masuk dalam hidupku,
.
Membiarkan ku nyaman padamu
.
.
Dan membiarkan ku berharap tentangmu pangeranku.
.
.
Aku tidak memaksamu untuk tetap disana atau pergi mencariku lagi...
.
.
.
Aku tidak memaksamu untuk sependapat padaku tentang apa yang beda ini.
.
.
Aku tidak akan memaksamu untuk mengejarku atau mencintaiku seperti yang kulakukan padamu selama ini.
.
.
Sudah sepantasnya ku pergi untuk hati yang dingin.
.
.
Pangeranku, kau begitu tampan.
.
Aku sangat suka senyummu.
.
Aku selalu suka karyamu.
.
Aku selalu menanti kabar darimu.
.
Tapi hatiku, .
Aku harus pergi...
.
Aku pergi bukan karena takut mengenalmu, bukan karena aku membencimu, bukan pula karena aku ingin lupakanmu.
.
.
Aku pergi karena aku harus belajar banyak terlebih dahulu. .
Mengingat pertanyaan yang saat itu kau ajukan padaku.
.
Hingga aku malu dihadapan Tuhanku.
.
Mungkin Next Time,
Jika kita masih dalam takdir yang sama. .
Kita dipertemukan,
.
Akan ku bawakan jawaban jawaban atas pertanyaanmu.
.
Kau ingin melihat Agamaku yang sebenar benarnya Bukan ???
.
.
Akan kau lihat nanti di waktu yang tepat. .
.
Mungkin padaku, atau mungkin pada Bidadari mu.
.
.
Aku senang mengenalmu Pangeranku,
.
Karenamu aku semakin bersemangat bertasbih dan menyebut Tuhanku.
.
Entahlah, ini cinta atau nafsu.
.
.
Bila memang ini cinta yang berawal dari nafsu... .
Akan ku adukan terlebih dulu pada Tuhanku.
.
Dan meminta padanya untuk menyiram air suci pada hatiku. .
.
Agar cinta karena nafsu beganti menjadi cinta karena keimananku.
.
.
Aku tidak berharap bisa memilikimu, tidak berharap pula disatukan kembali. .
.
Aku hanya berharap Semoga Tuhan Memberikan Cahaya terang Pada hatimu Pangeranku.
.
.
Agar kau damai dalam melangkah, Agar kau tentaram dalam menjalani harimu, Agar selalu berkah hidupmu, Agar surga kau dapatkan nanti sebagai hadiah Terbesarmu.
.
.
Aku sudah katakan bahwa aku mencintaimu..
Dan tak perlu kau katakan padaku apa bila kau mencintaiku. .
Karena aku mencintaimu dengan tulus, dan tak pernah meminta sedikit imbalan itu.
.
.
Pergilah pangeranku, jika kau ingin pergi. .
.
Biarkan rinduku dan doaku mengiringmu.
.
.
.
.
"Titik Tertinggi dalam Mencintai adalah Mengikhlaskan dia yang tak kan pernah bisa kita miliki."
.
.
By Fitriana Kusumaningrum
IG @fitriana_kusumaningrum
Fb Fitriana Kusuma Ningrum
Dear : Kamu
untuk kamu seseorang yang teramat aku cintai. kau boleh saja marah padaku. yang selalu datang dan pergi dari kehidupanmu. kau boleh saja ...
-
Dewasa ini, aku belajar banyak hal. Tentang sesuatu yang menyenangkan, tapi tidak selamanya. Terkadang, air mata hadir setelah tawa. Atau...
